Tanda Anak Sedang Kekurangan Cairan

Tanda Anak Kekurangan Cairan – Dehidrasi ialah menyusutnya jumlah air dan elektrolit pada tubuh yang terjadi secara signifikan.

Keadaan ini dapat dirasakan siapa saja, khususnya bayi dan anak-anak. Nach, orangtua perlu ketahui sinyal pertanda supaya bisa selekasnya menanganinya.

Dehidrasi pada bayi dan anak tersering disebabkan karena muntah dan diare. Beberapa anak lebih rawan alami dehidrasi karena komposisi air pada tubuh mereka condong semakin banyak dibanding orang dewasa.

Perlu Diketahui Orang Tua, Tanda Bahwa Anak Sedang Kekurangan Cairan

Disamping itu, bayi dan anak mempunyai pergerakan metabolisme yang semakin tinggi dibanding orang dewasa. Hingga air dengan jumlah yang sering dibutuhkan untuk mendukung proses metabolisme ini.

Baca Juga: Cara Perkuat Imun Tubuh

Tanda anak kekurangan cairan atau dehidrasi pada anak kerap kali susah dikenal orangtua. Apa lagi anak belum mampu mengkomunikasikan keluh kesah yang dialaminya.

Walau sebenarnya, bila tidak selekasnya ditangani, dehidrasi bisa berpengaruh fatal, bahkan juga dapat mengakibatkan kematian. Oleh karena itu, yok, ketahui pertanda dehidrasi pada anak

  • Anak terlihat lemas

Tanda dehidrasi pada anak yang dapat dikenal orangtua ialah anak terlihat lemas atau dapat sampai tidak sadarkan diri.

Berdasarkan penjelasan dari Tubuh Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2014, saat anak alami dehidrasi step awalnya, anak pada awalnya akan terlihat rewel dan resah. Tetapi, saat dehidrasi bersambung, anak akan kelihatan lemas sampai dapat tidak sadarkan diri. Ini benar-benar beresiko dan perlu pengatasan medis.

  • Anak tidak ingin minum

Saat anak alami diare atau muntah yang terlalu berlebih, anak akan terlihat kehausan dan minum cairan dengan jumlah yang banyak.

Namun, orangtua harus siaga bila anak malah tidak ingin minum. Berdasar pengakuan dari WHO, anak tidak ingin minum karena mereka berasa lemas atau bahkan juga alami pengurangan kesadaran karena dehidrasi.

  • Mulut kering

Merilis info di situs NHS Inform melalui artikel dengan judul “Dry Mouth”, disebut jika minimnya konsumsi air ke badan akan mengakibatkan kelenjar ludah tidak bisa menghasilkan air liur.

Walau sebenarnya, air liur benar-benar diperlukan untuk membasahi rongga mulut, hingga mempermudah proses pencernaan. Beberapa faktor di atas yang sudah disebut mempengaruhi keadaan ini.

  • Menangis tetapi tidak keluar air mata

Bayi atau balita yang masih belum dapat berbicara cuman mampu mengkomunikasikan hal yang tidak kelar dalam dianya melalui tangisan. Jadi orang yang dekat sama anak, orangtua perlu memerhatikan bagaimana tangisan anak.

Merilis Medical News Today, bila anak terlihat menangis tetapi tidak ada air mata yang keluar, ini sebagai salah satunya tanda anak yang alami kekurangan cairan dalam badannya.

  • Tidak ada kencing

Keluarnya air seni mengisyaratkan cukupnya konsumsi air ke badan. Pada dehidrasi, cairan pada tubuh sangat menyusut, hingga badan usaha melakukan perbaikan dengan batasi produksi urine.

Menurut sebuah laporan dengan judul “Dehydration and diarrhea” dalam jurnal Paediatrics dan Child Health tahun 2003, jika ibu menukar popok yang basah kurang dari 4 kali dalam satu hari, bermakna anak sedang pada kondisi dehidrasi.

  • Tangan dan kaki anak berasa dingin

Makin didiamkan, karena itu dehidrasi akan makin bertambah parah. Anak dapat alami terguncang, yakni keadaan yang memberikan ancaman jiwa di mana badan anak tidak mampu memenuhi keperluan oksigen yang adekuat.

Berdasar info dari National Institute for Health and Care Excellence, salah satunya tanda yang akan ada ialah kaki dan tangan merasa dingin. Jika keadaan ini terjadi, selekasnya mencari bantuan klinis karena anak pada keadaan yang mencelakakan.

  • Cubitan perut kembali lamban

Ada langkah gampang untuk orang untuk tahu apa anak mengalami tidak atau dehidrasi. Merilis Verywell Family, orangtua dapat mencubit kulit di perut anak dan tahan sepanjang beberapa detik yang lalu lepaskan. Ini untuk ketahui tanggapan turgor kulit atau tingkat kelenturan kulit.

Umumnya, sesudah dicubit, kulit perut akan selekasnya normal kembali seperti wujud aslinya. Namun, bila kembalinya cubitan itu memerlukan waktu lebih dari 2 detik, karena itu peluangnya anak mengalami dehidrasi yang cukup berat.

Itu pertanda dehidrasi pada anak yang harus dicurigai orang tua. Bagaimana juga, penyembuhan dehidrasi yang terbaik ialah bila kita mengetahui tanda-tanda gejala dan tanda dehidrasi semenjak awal. Ingat, orangtua, terutamanya ibu, ialah benteng awalnya dalam penatalaksanaan dehidrasi yang adekuat.

Pemicu dan Tanda Bayi Dehidrasi

Kecuali banyak hal di atas, bayi yang peranan ketahanan tubuhnya masih kurang kuat dan berkembang rawan diserang infeksi. Saat sakit, badan bayi beresiko tinggi alami dehidrasi.

Berikut sejumlah factor yang lain bisa juga membuat bayi dehidrasi, yakni:

  • Demam

Demam ialah keadaan yang kerap membuat bayi dehidrasi. Saat demam, terjadi evaporasi air berlebihan dari kulitnya karena temperatur panas. Selanjutnya Sang Kecil bisa banyak berkeringat karena badan usaha turunkan temperatur badannya. Makin tinggi demam yang dirasakan Sang Kecil, karena itu peluang ia alami dehidrasi lebih tinggi.

  • Diare dan muntah

Dua keadaan ini umum terjadi saat aliran cerna memiliki masalah, seperti saat terserang gastroenteritis.

Saat diare serang, bayi tidak dapat meresap cairan dari ususnya secara baik, sementara cairan banyak yang terbuang karena terus-terusan buang air besar.

Muntah membuat cairan badannya terkuras. Ke-2 keadaan ini dapat membuat demam, hingga cairan yang keluar juga lebih banyak.

  • Kurang minum

Minimnya cairan seperti saat tidak mendapatkan konsumsi ASI yang cukup, dapat membuat bayi Anda alami dehidrasi. Kemungkinan-kemungkinan yang membuat menampik untuk minum ialah sedang tumbuh gigi, pilek, sariawan, atau penyakit mulut lainnya. Keadaan itu dapat membuat mulut dan kerongkongannya nyeri dan tidak nyaman saat minum.

  • Berkeringat

Udara panas atau menggunakan pakaian berlapis-lapis dapat membuat Sang Kecil keluarkan banyak keringat dan membuat cairan badannya terkuras.

Dehidrasi mempunyai jenjang, ada yang ringan dan gampang diatasi, kronis, atau sedang. Dehidrasi kronis dapat bisa memberikan ancaman nyawa bila tidak selekasnya diobati. Berikut beberapa ciri dehidrasi ringan dan sedang:

  • Mulut dan bibirnya kelihatan kering, bahkan juga pecah-pecah.
  • Tidak ada air mata saat menangis.
  • Tampak rewel dan kurang ingin bermain.
  • Tidak kuat menyusu seperti biasa.
  • Warna urine terlihat lebih gelap dan baunya lebih menusuk dari biasanya.
  • Popoknya kering, walau sebenarnya telah digunakan lebih dari 6 jam.

Sedang dehidrasi yang paling kronis diikuti dengan:

  • Tangan dan kakinya merasa dingin.
  • Tubuh kelihatan pucat.
  • Mata dan ubun-ubun Sang Kecil terlihat
  • Sangat mengantuk dan lemas.
  • Sesak napas.
  • Tekanan darah rendah.

Harus dipahami, bayi yang baru lahir umumnya memang tidak keluarkan air mata saat menangis. Maka tidak boleh salah anggap bayi alami dehidrasi.

Mengatasi Dehidrasi Secara Benar

Maka bila menyaksikan pertanda bayi alami dehidrasi cepatlah kerjakan beberapa hal di bawah ini:

  • Jika Sang Kecil alami diare, demam, atau keringat berlebihan, beri ASI atau susu formulasi semakin banyak dari biasanya. Minuman elektrolit, seperti oralit, bisa juga diberi bila bayi berumur di atas 3 bulan.
  • Apabila cairan badannya menyusut karena muntah, janganlah lekas memberikannya cairan dengan jumlah yang banyak sekaligus. Coba beri cairan dengan jumlah sedikit tetapi sering. Cairan yang dapat Anda beri yakni ASI, susu minuman elektrolit, atau formulasi. Anda dapat memberikannya sesendok cairan setiap 10 menit sepanjang beberapa jam. Sesudah keadaannya kelihatan lebih baik, beri 2 sendok setiap 5 menit. Bila Sang kecil bisa konsumsi makanan padat, Bunda dan ayah dapat memberi makanan untuk anak diare.
  • Rasa sakit pada mulut bayi yang membuat menampik untuk minum dapat ditangani dengan memberikannya beberapa obat, seperti paracetamol. Obat ini bisa juga diberi untuk membantu menurunkan demam.

Diare karena infeksi pada aliran cerna bayi tersering disebabkan karena virus. Keadaan ini akan lebih baik sendirinya bila perawatan di dalam rumah memadai. Karenanya, pemberian obat sakit di perut anak tidak selamanya diperlukan, terkecuali atas landasan saran dokter.

Pemberian obat antibiotik tak perlu diberi setiap anak diare, obat ini cuman efisien bila Sang Kecil alami diare karena infeksi bakteri. Karenanya, penting untuk periksakan keadaan Sang Kecil ke dokter untuk tentukan pemicu dehidrasinya.

Kecuali beberapa cara di atas, jika Sang Kecil dehidrasi karena udara panas, Anda dapat memberi cairan semakin banyak dari umumnya dan mempersejuk temperatur ruang dengan AC atau kipas angin. Pemberian cairan yang cukup bisa juga membantu turunkan temperatur badan bayi, kecuali dengan pemberian obat dokter.