Garam Harus Dihindari Saat Diet

Garam adalah bumbu masakan atau penyedap yang biasa dipakai di dapur namun demikian garam sangatlah harus dihindari saat sedang diet.

Memberikan rasa asin, makanan yang tanpa garam rasanya cemplang dan jadi membuat kamu tidak selera makan, kan?

Cukup banyak orang yang usaha untuk menghindar garam pada makanan yang mereka konsumsi setiap hari. Banyak mitos mengenai garam yang berkaitan kesehatan.

Garam Harus Dihindari saat Diet? Apakah Garam Tidak Sehat?

Walau sebenarnya menurut dr. Emilia Achmadi MS, RD ketakutan ini terlalu berlebih, karena pada intinya badan manusia memerlukan garam sebagai ‘bahan bakar’ untuk jalankan peranan badan, kecuali lemak dan gula.

Baca Juga: Atasi Sakit Gigi Secara Alami

Meskipun begitu, garam yang dimakan terlalu berlebih dapat memacu tekanan darah tinggi atau hipertensi dan bermacam permasalahan lainnya.

Disamping itu, dalam masyarakat banyak mitos yang tersebar sekitar garam yang terkait dengan kesehatan, yang kebenarannya tidak jelas salah satunya Garam Dihindari Saat Diet. Apa mitos itu?

  1. Diet No Garam bagus untuk badan.

Kenyataannya, garam penting untuk beberapa sel badan untuk jalankan peranan hidrasi dan otot. Konsumsi garam seperlunya akan membuat badan sehat. Tetapi, bila terlalu berlebih, sama dengan hal gula, garam dapat mencelakakan badan.

Menurut Journal of Hypertention, mereka yang kurangi kunsumsi sodium seputar 1000 miligram dapat alami bermacam penyakit.

Seperti darah rendah, detak jantung semakin tinggi, dan tingkatkan resiko diabetes. Diet no garam malah dapat membuat badan kehilangan cairan.

Hal yang terjadi adalah berat badan menyusut karena badan kehilangan cairan karena kurang garam. Salah satunya peranan garam pada tubuh untuk mengikat air.

  • Garam yang hits dalam masyarakat, sea salt, berkadar natrium yang lebih rendah

Sea salt atau garam laut dapat diketemukan dengan gampang di swalayan dan terkenal di kelompok warga. Banyak yang memandang jika sea salt memilki kandungan natrium yang lebih rendah dibanding garam dapur biasa, hingga lebih sehatkan untuk dimakan setiap hari. Kenyataannya?

Berdasarkan penjelasan dari AHA, sea salt memilki kandungan natrium yang sama dengan garam dapur umumnya, yakni sejumlah 40 % dari beratnya.

Garam laut didapat langsung lewat evaporasi air laut. Umumnya tidak diolah, atau alami pemrosesan minimum, dan karena itu menjaga tingkat tapak jejak mineral seperti magnesium, kalium, gizi yang lain, dan kalsium.

Kebalikannya, garam meja ditambang dari pengendapan garam dan diproses untuk memberi struktur yang lembut, hingga lebih gampang untuk digabung dan dipakai dalam resep. Pemrosesan ini hilangkan garam meja dari mineral apa saja, dan aditif bisa dipakai untuk mencegah penggumpalan.

  • Dengan tidak menambah garam ke makanan, tentu saja konsumsi natrium menjadi terbatas

Kemungkinan kamu memandang jika tidak menambah atau membubuhkan garam ke makanan atau masakan, maknanya tidak ada juga natrium yang masuk di dalam badan. Kembali lagi, ini ialah mitos yang tidak terbukti.

Natrium kerap kali cuman dihubungkan dengan garam. Tetapi, rupanya banyak makanan yang lain sembunyi-sembunyi memiliki kandungan garam yang paling tinggi.

Salah satunya ialah makanan yang alami pemrosesan seperti makanan kalengan, yang dapat memiliki kandungan natrium sekitar 75 persen.

Itu penyebabnya kamu benar-benar dianjurkan untuk membaca kandungan gizi dalam paket produk makanan yang akan kamu beli.

  • Makanan yang rendah kandungan natriumnya rasanya tidak nikmat

Natrium yang terdapat di dalam garam kerap dihubungkan dengan kunci kepuasan pada masakan. Ini membuat sebagian orang susah batasi konsumsi garam karena takut makanan jadi tidak dan jadi tidak hasrat makan. Asumsi ini perlu diperbarui.

Walau garam ialah “jalan singkat” untuk memberikan rasa pada makanan, terutamanya asin dan renyah, tapi garam bukan salah satu penyedap masakan.

Menambahkan kesedapan masakan dapat dengan memercayakan bermacam rempah, misalkan jeruk nipis, lada, kayu manis, rosemary, thyme, bunga lawang, cengkih, kemiri, bawang putih, kapulaga, ketumbar, dan ada banyak lagi.

  • Garam lawan kesehatan.

Garam memang sering dikatakan sebagai biang keladi bermacam permasalahan kesehatan, seperti jantung dan hipertensi. Tetapi, bermacam riset yang dilaksanakan akhir-akhir ini malah merekomendasikan supaya kita tidak hilangkan garam pada makanan, tetapi mmengonsumsi garam secukupnya.

Ketentuannya, untuk orang dewasa keseluruhan konsumsi garam setiap hari seputar 1500 – 2200 mg. Ini bermakna pemakaian secubit garam pada makanan yang Anda masak setiap hari. Tetapi, skema makan saat ini membuat seorang konsumsi lebih dari 5000 miligram garam. 2x lipat atas sesuatu yang diperlukan badan.

Garam dapat berawal dari banyak makanan, dimulai dari makanan cepat sajian, makanan paket, sampai minuman dan makanan ringan. Supaya konsumsi garam tidak berlebihan, makanlah makanan yang diproses sendiri.

  • Garam crystal lebih baik dari garam laut.

Kenyataannya, kecuali rasa asin yang diberi, garam crystal memberi dampak yang sama. Harus dipahami jika pada intinya semua tipe garam mempunyai kandungan sodium.

Tidak bermakna ada satu tipe garam yang mempunyai kandungan sodium berlainan dari tipe garam lainnya. Itu penyebabnya, tidak ada tipe garam yang lebih bagus dari garam yang lainnya.

  • Garam sama dengan sodium

Secara kimia garam dikatakan sebagai sodium klorida. Walau demikian, kandungan sodium pada sebuah gr garam cuman separuhnya saja.

Bila pada cap paket makanan tertera kandungan garam, karena itu tingkat sodiumnya cuman separuhnya saja. Pada tubuh, sodium berperan untuk kerja kontraksi otot sekalian untuk dehidrasi.

Saat berkeringat dan buang urin, kita kehilangan sodium. Bila tidak menggantinya sama yang baru, karena itu sodium pada tubuh akan raib. Harus dipahami, jika garam bukan salah satu sumber sodium. Senyawa ini bisa juga didapatkan dari sayur dan buah-buahan.

  • Orang yang tidak mempunyai hipertensi tidak perlu batasi konsumsi garam

Garam tidak mengakibatkan hipertensi, tetapi untuk pasien hipertensi perlu kurangi konsumsi garam ke badan. Kenapa? Karena garam pada tubuh akan mengikat air.

Makin banyak garam, bermakna makin banyak air yang terlilit dalam darah. Keadaan ini akan membuat jantung memompa lebih keras dan membuat tekanan darah meningkat.Namun, bagaimana dengan beberapa orang yang tekanan darahnya normal? Bolehkan konsumsi garam sesukanya? Jawabnya pasti tidak.

Walau punyai tekanan darah normal, tapi batasi konsumsi garam dalam batasan aman sejak awal kali berguna untuk mencegah hipertensi yang resikonya makin bertambah bersamaan pertambahan umur.

Merilis Harvard Health Publishing, jika kamu makan kebanyakan garam, badan akan meredam air untuk mengencerkannya. Air extra ini akan tingkatkan volume darah, yang bermakna jantung akan bekerja lebih keras karena menggerakkan semakin banyak cairan melalui pembuluh darah.

Pemompaan yang lebih berat oleh jantung memberikan kemampuan lebih dari pembuluh darah. Seiring berjalannya waktu, kenaikan kemampuan ini bisa tingkatkan tekanan darah dan menghancurkan pembuluh darah, membuat lebih kaku, yang mana ini tingkatkan resiko stroke, serangan tidak berhasil jantung, dan jantung.

  • Natrium cuman ada pada makanan yang asin

Natrium sangat kuat hubungannya dengan garam, hingga saat kita disuruh untuk batasi natrium, kita cuman menghindar tambahan garam atau makanan yang asin.

Kenyataannya, sembunyi-sembunyi banyak makanan yang memiliki kandungan natrium, seperti makanan beku, cemilan, daging deli, keju, roti, sauce, sereal, terhitung minuman bersoda.

Itu beberapa mitos kesehatan sekitar garam dan kebenarannya. Tidak boleh yakin info yang keliru kembali, ya! Satu perihal yang jelas, kamu memang seharusnya batasi konsumsi garam dalam skema makan setiap hari. Maksimalkan dengan skema makan bergizi imbang, olahraga teratur, tidur memadai, dan urus depresi secara baik supaya badan selalu sehat.